KTT Iklim kian Teguhkan Dominasi Negara Maju
DENPASAR--MEDIA: Walhi mengkhawatirkan konferensi PBB tentang kerangka kerja perubahan iklim atau United Nation Framework
Convention for Climate Change (UNFCCC), hanya menjadi forum seremonial meneguhkan dominasi negara-negara maju.
Kekhawatiran itu disampaikan Pantoro Kuswardono, Koordinator Kampanye
Perubahan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), pada workshop Meliput isu
perubahan iklim yang berlangsung dua hari hingga Minggu (25/11), di Desa Budaya
Kertalangu, Denpasar Timur.
"Kita patut khawatir mengingat kecenderungan negara maju untuk memaksakan kehendaknya. Apalagi Indonesia tidak memiliki banyak pilihan untuk bersikap. Pemerintah kita terlalu pragmatis," kata Tori, panggilan
Pantoro Kuswardono.
Pelatihan diikuti sekitar 20 jurnalis, menyambut UNFCCC di Nusa Dua, 3-14 Desember 2007 itu, diselenggarakan Walhi Bali, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, dan Sloka Institute, 24-25 Nopember.
Menurut Tori, berdasarkan informasi yang didapat dari tim Menteri Lingkungan Hidup, pemerintah Indonesia akan lebih banyak bicara
tentang uang dalam konferensi yang akan diikuti sekitar 180 negara tersebut. "Delegasi pemerintah Indonesia tidak akan banyak membahas masalah penurunan emisi sebagai jalan keluar menekan pemanasan global. Pemerintah kita akan cenderung memanfaatkan apa yang bisa didapat secara ekonomi," ucapnya.
Dalam konferensi tersebut ada empat isu besar yang sebenarnya akan dibawa Indonesia, meliputi penurunan emisi, transfer teknologi, adaptasi, dan mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanisme/CDM). "Tapi pemerintah Indonesia sepertinya akan fokus pada upaya jual beli karbon," lanjutnya.
Dari situ akan banyak proyek yang bisa diperjualbelikan. Misalnya pelestarian hutan yang nantinya akan dikapling oleh negara-negara penghasil emisi. "Jadi hutan kita nanti bukan lagi milik masyarakat setempat tapi seolah-olah milik negara maju yang sudah membayar konsekuensi pembuangan
emisi mereka," kata Tori.
Parahnya lagi, harga hutan itu sangat murah. Hanya US$5 hingga US$20 per hektare, atau setara dengan sekitar Rp5 per meter persegi. "Karena itu kita akan menyuarakan bahwa atmosfer bukan barang dagangan. Jadi tidak semua orang punya hak untuk memperjualbelikan. Sebab perdagangan karbon adalah perdagangan hak meng-emisi orang," ujarnya.
Aktivis Walhi ini memberikan contoh saat berada di ruangan, ada yang merokok cerutu hingga asapnya banyak. Kemudian perokok kaya raya itu akan terus merokok dengan memberikan kompensasi membayar orang lain yang ada. Si
perokok akan terus merokok dan orang lain tidak boleh merokok.
"Praktik jual-beli emisi seperti itu yang akan didesakkan negara emitor terbesar Amerika Serikat di Nusa Dua nanti," kata Tori.
Menurut dia, perubahan iklim sering dilihat sebagai masalah lingkungan semata. Padahal harus dilihat ada konteks politik ekonomi di belakangnya. Ada model ketidakadilan yang tumbuh berkembang selama hampir 4-5 abad.
"Industrialisasi itu beralas darah. Ini akar cerita perubahan iklim," tambahnya, seraya mengingatkan, bahwa global warming atau pemanasan global tidak akan terjadi secara mendadak, dampaknya akan perlahan.(Ant/OL-03)
Thursday, November 29, 2007
Posted by WALHI BALI at 3:09 AM 0 comments
Thursday, November 22, 2007
Parade Budaya untuk Keadilan Iklim
posted in Agenda, Teknologi, Budaya, Kabar Anyar | contributor : Penunggu Bale BengongSumber Press Release
Koalisi Masyarakat Sipil Bali akan gelar Parade Budaya untuk Keadilan Iklim. Parade yang akan digelar pada Sabtu (8/12/07) itu menampilkan berbagai bentuk kesenian dari tradisional hingga rock and roll. Parade itu diharapkan bisa memberi suara alternatif di tengah gegap gempita Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali pada 3-14 Desember nanti.
Menurut Direktur Eksekutif Daerah Walhi Bali Ni Nyoman Sri Widiyanti, kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Bali terkait isu yang akan dibahas sekitar 10.000 hingga 15.000 orang itu. Konferensi itu sendiri akan diikuti sekitar perwakilan pemerintah dan swasta dari 180 negara untuk membahas isu paling hangat saat ini yaitu perubahan iklim.
”Karena itu masyarakat Bali agar turut memberi suara pada konferensi tingkat dunia tersebut,” kata Aik, panggilan akrabnya.
Koalisi Masyarakat Sipil sendiri merupakan gabungan dari berbagai kelompok sipil di Bali seperti Walhi Bali, Mitra Bali, Yayasan Wisnu, Kalimajari, PPLH, Sloka Institute, Taman 65, mahasiswa, pelajar, dan berbagai kelompok lain. Koalisi ini dibentuk untuk memberi suara pada hiruk pikuk Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim nanti.
Salah satu cara untuk menyampaikan suara masyarakat Bali tersebut adalah melalui Parade Budaya untuk Keadilan Iklim yang akan digelar di Lapangan Puputan Renon Denpasar. Dalam acara sehari penuh ini akan dibacakan Deklarasi Masyarakat Sipil Bali yang salah satunya menawarkan agar Hari Raya Nyepi bisa digunakan sebagai momen internasional untuk mengistirahatkan bumi.
Selain deklarasi, acara yang rencananya akan dihadiri 1000 orang dari berbagai latar belakang seperti buruh, tani, nelayan, aktivis LSM, mahasiswa, dan masyarakat lain itu juga diisi berbagai bentuk kesenian.
Ada kesenian tradisional Bali seperti joget bumbung dan bondres. Ada pula band-band seperti Naviculla, Ed Eddy & Resedivis, Joni Agung, Nanoe Biroe, Balawan, dan lain-lain yang mewakili berbagai aliran musik dari rock, pop, jazz, hingga reggae. ”Kami hanya belum dapat dari aliran dangdut,” kata IB Anom Wiadnyana, Koordinator Parade Budaya.
Tidak hanya kesenian lokal Bali. Sejumlah seniman dari berbagai daerah di Indonesia pun akan hadir. Bahkan ada pula penampilan khusus dari Indian Cultural Center di Bali.
Parade itu semakin lengkap karena akan diikuti pula dengan Pasar Rakyat yang akan diisi berbagai produk murah yang dihasilka berbagai kelompok masyarakat.
“Parade ini sekaligus sebagai tempat alternatif bagi seluruh kelompok sipil di Bali yang ingin berkontribusi pada isu perubahan iklim,” kata Aik. [*]
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi
Ni Nyoman Sri Widhiyanti, Direktur ED Walhi Bali (Telp 0818551297)
Ngurah Termana, Humas Koalisi Masyarakat Sipil (08156574080)
Posted by WALHI BALI at 10:24 PM 1 comments

Lokakarya Perubahan Iklim Digelar di Bali
oleh Risalah MQ
"Workshop digelar untuk memberi ketajaman bagi setiap wartawan yang akan menulis masalah lingkungan hidup, khususnya perubahan iklim berkenaan dengan penyelenggaraan UNFCCC di Nusa Dua," kata Direktur Eksekutif Walhi Bali, Ni Nyoman Sri Widhiyanti, di Denpasar, Senin.
Ia menyebutkan, penyelenggaraan konferensi dunia yang akan membahas perubahan iklim global, merupakan peristiwa penting yang memerlukan ketajaman tersendiri bagi setiap jurnalis yang hadir di arena kegiatan.
"Karenanya, para jurnalis yang akan terjun melakukan peliputan, perlu telebih dahulu dibekali sejumlah pola dan teknik tersendiri dalam menggali materi, untuk kemudian menuangkan tulisan mengenai lingkungan," ucapnya.
Dengan demikian, para peliput kegiatan nantinya diharapkan dapat menungkankan karya-karyanya yang lebih tajam, baik menyangkut lingkungan secara keseluruhan maupun khusus tentang perubahan iklim global, ujar Widhiyanti.
Mengingat itu, Direktur Walhi Bali selaku penyelenggara kegiatan, mengharapkan para jurnalis yang akan terjun meliput UNFCCC, dapat ambil bagian dalam Workshop yang akan digelar dua hari, yakni 24-25 Nopember mendatang di Sanur, Denpasar.
Workshop yang diselenggarakan atas kerja sama Walhi dengan Sloka Institut dan Aliansi Jusnalis Independen (AJI) Denpasar itu, akan menampilkan sejumlah pembicara dari kalangan ahli, baik dari perguruan tinggi maupun LSM yang khusus membidangi masalah lingkungan.
Konferensi badan dunia yang dijadwalkan berlangsung sejak 3 sampai 14 Desember 2007 itu, akan dihadiri sekitar 15 ribu delegasi dari 168 negara.(
Posted by WALHI BALI at 10:13 PM 1 comments
Wednesday, November 7, 2007
Tuesday, November 6th, 2007...3:40 am
Ironi Konferensi Perubahan Iklim di Bali
Desember nanti, Bali akan dipenuhi 10 ribu hingga 15 ribu orang. Ribuan orang: aktivis LSM, pejabat, penjahat (lingkungan), menteri, sampai presiden dari 180 negara akan tumplek blek di Nusa Dua, bagian selatan Bali. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) alias Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim itu akan berpusat di Bali International Convention Centre (BICC).
Banyak suka cita, terutama masyarakat Bali. Ini ibarat rezeki nomplok karena konferensi besar itu akan jadi promosi gratis buat pariwisata Bali. Ya, tentu saja. 10 ribu orang tidaklah sedikit. Apalagi isu pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) sedang laris manis jadi wacana global. Maka, itu tadi, Bali pun akan mendapat imbas pencitraan.
Bali akan dicitrakan sebagai tempat konferensi yang menyenangkan. Lalu akan makin banyak wisatawan datang ke Bali. Karena itulah, nyaris tidak ada yang bersikap kritis pada masalah ini.
Tapi, tetap saja ada catatan yang harus diingatkan, terutama dari sisi lingkungan. Sebab isu yang akan didiskusikan nanti kan soal lingkungan.
Sebagai tempat konferensi, Bali jelas akan kena dampak. Kita lihat dari soal-soal sepele saja. Misalnya sampah sisa makanan, sampah isi perut dan kantung kencing :), air yang dihabiskan untuk mandi para peserta, bahan bakar minyak kendaraan (pesawat, mobil, sepeda motor) yang dihabiskan dst, dst. Saya bukan ahli hitung menghitung. Tapi saya yakin jumlahnya tidak sedikit.
Ironi paling jelas adalah soal rencana kompensasi atas dampak buruk konferensi itu. Dari dua teman aktivis LSM di Bali, saya mendapat info kalau panitia dari Jakarta akan melakukan penghijauan di Taman Nasional Bali Barat sebagai bentuk timbal balik dampak buruk konferensi. Kabarnya panitia akan membangun toilet dan menebang hutan untuk jalan masuk ke hutan.
Ini sih sepertinya sinting. Tapi sangat mugkin memang terjadi. Coba pikir: 10 ribu orang datang ke tengah hutan? Atau ya paling sedikit lah 1000 orang. Jelas susah. Gimana kalau 1000 orang itu pengen kencing? Tidak enak kan kalau semua lalu membuka celana dan cuuur di tengah hutan seenaknya. Maka dibuatlah toilet itu tadi.
Begitu juga dengan menebang hutan. Kalau hanya satu dua orang yang masuk sih gampang saja. Tidak usah menebang hutan. Cukup lewati jalan setapak atau di sela semak-semak. Lha kalau 1000 orang masuk hutan, meski lewat sela semak-semak ya tetep saja hutan akan rusak. Mungkin karena itu pohonnya ditebang untuk bikin jalan. Sebab hutan yang gundul itu adanya memang di tengah, bukan di pinggir.
Inilah puncak dari semua logika yang tidak logis. Hehehe. Masa mereka menebang pohon untuk menanam pohon baru. Gimana kalau pohon barunya tidak tumbuh? Rusak sih pasti, perbaiki belum tentu.
Kata temanku sih rencana ini memang masih kontroversi. Dinas Kehutanan Bali konon menolak ide gila ini. Tapi aku sendiri belum pernah cek langsung ke pihak-pihak terkait. Masih sebatas ide untuk jadiin bahan liputan. Seperti biasa, masih banyak kerjaan lain yang numpuk. Huh!(rumahtulisan.wordpress.com)
Posted by WALHI BALI at 8:52 AM 0 comments
Monday, November 5, 2007
Aksi Langsung Kaum Muda Pembela Lingkungan
Singaraja- Green Student Environmentalist (GSE) Bali bersama Mapala Widya Wahana IHDN Denpasar dan Magma Adventure Team mengadakan aksi langsung dalam membela hutan di kawasan Danau Buyan dan Tamblingan, sabtu (03/11/07). Dalam aksi langsung tersebut, belasan partisipan juga membuat tenda untuk bermalam.
”Saat ini, kawasan hutan danau buyan dalam kondisi kritis yang kemudian berdampak pada turunnya debit air di danau” ungkap Dek Gus dari GSE Bali.
Dengan membentangkan dua spanduk yang berbunyi, ”Stop Merusak Lingkungan” dan “Hutan Kita Bukan Toilet Karbon Negara Maju“, partisipan bermaksud untuk mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga Hutan Bali yang masih tersisa. (*)
Posted by WALHI BALI at 2:11 AM 0 comments
Monday, October 29, 2007
Rock Against Warming II : Walhi Bali Menggandeng Band - Band Peduli Lingkungan Untuk Menyuarakan Keadilan Iklim
Perubahan iklim saat ini merupakan permasalahan lingkungan hidup yang paling serius dekade ini. Namun, permasalahan perubahan iklim ini hanya menjadi pembicaraan ditingkat kelas menengah atau bahkan dilakangan environmentalis saja. Masyarakat umum, walaupun sudah merasakan dampaknya di konteks lokal, tetapi mereka relatif belum paham dan tidak mempunyai kesadaran dalam ikut melakukan advokasi kebijakan yang terkait dengan perubahan iklim. Menuju Konferensi PBB Mengenai Perubahan Iklim yang akan dilaksanakan di Bali Desember nanti, WALHI Bali mengadakan beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk menyebarluaskan isu perubahan iklim dan memperkenalkan perspektif hak asasi manusia dan keadilan lingkungan dalam melihat masalah perubahan iklim ini. Dengan harapan bahwa masyarakat Bali nantinya tidak hanya menjadi saksi bisu saja, melainkan ikut mengangkat suara untuk mempengaruhi perhelatan yang sangat menentukan bagi kelanjutan hidup di bumi.
”WALHI Bali mengajak anak muda khusus nya band-band peduli lingkungan untuk ikut menyuarakan perubahan iklim ini lewat kegiatan musik yang bertajuk ’Rock Against Warming’. Kegiatan musik ini sekarang sudah yang kedua.” kata Bayu Mandala, Kordinator Acara.
Hari Minggu, 30 September 2007 lalu di gelar ”Rock Against Warming I” yang diisi 14 band, yakni: Kalahhari, Fuzz Clan, Something Like Crazy, Nymphea, Born By Mistake, Syailendra, Republik Enemy, Cordial Army, Psychofun, Foreplay, The Audio Kills, The Brews, Molotov, Bad Ramirez.
Pentas musik kedua diadakan pada hari minggu, 28 Oktober 2007 di Peanut Club Kuta Bali dengan 17 band pengisi acara, yakni: Kost Oi, Devil Killer, School Devil, Timah Panas, De’ Buntu, WNG, Bad Animal, Romeo Rocker’s, NCV-RU, Ed Eddy & Residivis, Ritual Ceremony, Cyber Machine’s, Scared Of Bums, Infectus Arteries, De’ Roaster, Antipop, Rest In Pain.
”Dengan menggelar musik secara gratis diharapkan partisipasi generasi muda dapat meningkat untuk meramaikan pentas musik tersebut. Dengan demikian tujuan dari penyebarluasan isu perubahan iklim dan keadilan iklim ini dapat tercapai dan tersampaikan secara universal sehingga keperdulian generasi muda terhadap lingkungan dan sesama dapat terbangun dengan baik.” tambah Bayu.
”Kami dari WALHI Bali mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi band-band yang sudah bersedia berpartisipasi dalam acara ini tanpa di bayar sepeser pun” ungkap Ni Nyoman Sri Widhiyanti, Direktur WALHI.
”Tingginya antusisme kaum muda Bali untuk berpartisipasi dalam acara ini, membuktikan bahwa generasi muda Bali sudah sadar akan hak-haknya untuk ikut bersuara mengenai masalah lingkungan. Semoga event ini bisa membangunkan kita bahwa kita sedang ada dalam ancaman perubahan iklim” tambah Aik, panggilan akrabnya.(*)
Posted by WALHI BALI at 8:22 PM 0 comments
Lembar Informasi No. 3
Berubah atau Diubah:
Tindakan Bersama Demi Keberlanjutan Hidup di Bumi
Mengapa Kita Harus Berubah?
Dalam Lembar Informasi no. 1 ”Ketika Selimut Bumi Makin Tebal” dan Lembar Informasi no. 2 ”Dari Rio ke Bali via Kyoto” telah dijelaskan mengenai perubahan iklim dan peraturan-peraturan yang telah dibuat dalam rangka menurunkan gas rumah kaca yang ada di lapisan udara kita. Meski telah ada peraturan-peraturan tersebut, ternyata tidak berjalan cukup efektif dalam memenuhi target. Jadi diperlukan langkah bersama untuk mendorong sebuah perubahan yang lebih baik. Perubahan gaya hidup sangat diperlukan karena kita sedang berada dalam ancaman perubahan iklim. Jika kita tidak mengubah gaya hidup, maka tidak mustahil bumi akan menjadi tempat yang tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup.
Apa Yang Bisa Kita Lakukan?
• Menyadarkan diri sendiri dengan mendapatkan informasi yang lebih baik dengan membaca, mencari tahu, mempelajari informasi yang ada
• Mengubah gaya hidup
• Mencoba mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama
• Mencoba mempengaruhi kebijakan pemerintah agar lebih ramah lingkungan.
Apa Yang Bisa Dilakukan Untuk Mempengaruhi Sekitar Kita?
Setelah mempunyai informasi yang cukup tentang perubahan iklim, cobalah untuk merubah gaya hidup kita. Kemudian lanjutkan untuk mempengaruhi orang-orang yang ada disekitar kita, seperti keluarga, sekolah maupun di tempat kerja, untuk:
A.Hemat Sumber Daya Alam
• Hemat air di rumah tangga, saat anda mandi, mencuci ataupun menyiram tanaman
• Buatlah penampungan air hujan sehingga dapt digunakan untuk menyiram tanaman
• Hemat penggunaan kertas dengan menggunakan kedua sisinya (bahan baku kertas berasal dari kayu)
• Gunakan tissue secukupnya
B.Hemat Energi
Matikan listrik (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telepon genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi)
Ganti bola lampu yang bisa menghemat listrik
Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%)
Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24ยบ C)
Gunakan pengatur waktu / timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll)
Buat jadwal/ batas waktu penggunaan listrik.
Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda untuk menyerap pencemaran dan mengatur air tanah
Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin pengering (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon
Lebih sedikit gunakan kendaraan dalam perjalanan singkat atau dekat. Jalan kaki, kayuh sepeda, naik mobil beramai-ramai, dan kendaraan umum, selain akan menghemat pengeluaran transportasi kita, tentu saja mengurangi karbon dioksida
Gunakan tangga daripada lift (bila memungkinkan) di tempat kerja
Apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen?
Sebagai konsumen kita mempunyai hak untuk memilih barang-barang yang akan kita konsumsi. Jadi gunakan pertimbangan-pertimbangan perubahan iklim dalam memilih barang, seperti:
• Menghindari untuk beli produk dengan bungkus yang berlapis-lapis. Setiap kita bisa mengurangi 10% sampah, kita berarti sudah mengurangi 600 kg karbon dioksida.
• Bawalah tas sendiri ketika kita sedang berbelanja sehingga tidak menggunakan plastik untuk membawa barang belajaan. Karena hampir semua sampah plastik menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar.
• Belilah produk lokal untuk mendukung bergeraknya ekonomi lokal. Selain itu produk lokal lebih hemat energi daripada produk import yang memerlukan pengangkutan yang jauh dan mengeluarkan emisi lebih banyak.
• Dukung pertanian organik karena tidak menggunakan pupuk kimia yang dibuat dari bahan bakar fosil.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Di Masyarakat?
Setelah kita melakukan hal tersebut diatas, mulailah untuk berbagi informasi kepada masyarakat yang ada di sekitar kita. Kemudian ajaklah masyarakat untuk:
Mengelola sampah di banjar, desa, atau komunitas secara swadaya
Mengelola sumber daya alam di sekitar kita (sungai, tanah, danau, hutan) dengan tetap menjaga kelestariannya
Membentuk kelompok pelestari lingkungan hidup dan relawan siap siaga bencana di masyarakat
Membuat komunitas hijau untuk menciptakan karya-karya kreatif dari produk daur ulang
Membentuk pasukan kebersihan dalam setiap kegiatan yang masyarakat adakan
Budayakan nebeng dengan jalan satu kendaraan bersama-sama tanpa harus membawa kendaraan sendiri-sendiri.
Tanam pohon di ruang-ruang milik umum untuk menjaga kesejukan udara dan cadangan air tanah.
Memilih kepala desa, bupati, gubernur maupun anggota wakil rakyat dengan jalan melihat jelas latar belakang, visi-misi yang peduli iklim dan mempunyai program yang membela lingkungan dan masyarakat.
Apa Yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Pembayar Pajak
Buatlah kelompok atau perkumpulan para pembayar pajak (tax-payer club) untuk mendorong negara (pemerintah) melakukan hal sebagai berikut:
- mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada lingkungan hidup dan masyarakat
- membangun fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan dalam merubah gaya hidup masyarakat, seperti angkutan umum, jalur pengendara sepeda dan pejalan kaki, ruang terbuka hijau dan lain-lain
- memberikan insentif kepada masyarakat yang berhasil mengembangkan energi terbarukan di wilayahnya desanya
- menyediakan tempat dan penampungan sampah plastik yang terpisah dari sampah organik. Sehingga sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai kompos oleh masyarakat
- menghentikan kebakaran hutan dan lahan
- Mengakui hak masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayahnya.
Apa Yang Harus Segera Dilakukan Negara?
Negara harus segera mungkin memberikan informasi tentang perubahan iklim dan informasi adaptasi untuk masyarakat yang rentan sebagai tindakan kesiap-siagaan dini dan peningkatan kesadaran tentang bencana iklim yang semakin meningkat.
Bagaimana Dalam Konteks Indonesia?
Karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat rentan terhadap dampak dari perubahan iklim, maka Pemerintah Indonesia harus membangun sistem informasi dan pusat data (data base) mengenai dampak-dampak perubahan iklim, termasuk didalamnya:
- Identifikasi dampak-dampak perubahan iklim yang telah ada dan potensi dampak yang dapat terjadi di Indonesia;
- Menetapkan daerah-daerah yang kritis dan rentan terkena dampak perubahan iklim sebagai prioritas untuk melakukan tindakan adaptasi;
- Karena perubahan iklim dapat meningkatkan intensitas bencana, maka perlu untuk mengembangkan sistem peringatan dini akan bencana alam dan lingkungan yang dapat terjadi, seperti kebakaran hutan, banjir, badai, pemutihan karang (coral bleaching), dsb;
- Manajemen yang dilakukan secara multipihak untuk menanggulangi dampak-dampak perubahan iklim yang dapat terjadi;
- Pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat ketika dampak perubahan iklim terjadi.
Langkah Adaptasi yang Harus Dilakukan Pemerintah
a. Pembangunan Sarana dan Prasarana
- Pembuatan sistem drainase dan sumur resapan untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi dan kekeringan
- Pembangunan jalan untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda serta penanaman pohon peneduh sehingga mendorong masyarakat untuk menggunakan kendaraan tanpa motor ataupun berjalan kaki
- Pembuatan desain gedung perlu memperhatikan ketahanan terhadap badai tropis, intensitas hujan yang tinggi, dan kekeringan.
o Pembangunan jalan perlu memperhatikan tata ruang dan prediksi kenaikan permukaan air laut.
- Meningkatkan daya dukung DAS (Daerah Aliran Sungai) dengan mencegah kerusakan dan memperbaiki daerah tangkapan (catchment area) sebagai daerah resapan air melalui upaya konservasi lahan, baik dengan metode mekanis (misal: pembuatan terasering dan sumur resapan) mapun vegetatif
b.Kelautan dan Perikanan
- Sosialisasi kepada nelayan tentang cara pemanfaatan informasi cuaca dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG)
- Memfasilitasi nelayan dengan perahu yang lebih tahan terhadap goncangan gelombang besar
- Perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh perubahan iklim terhadap budidaya ikan. Diperkirakan bahwa perubahan iklim bisa mengurangi jenis ikan sampai 20-30%.
- Perlu dibangun pemukiman nelayan yang desainnya telah mengantisipasi kenaikan permukaan air laut (termasuk sistem sanitasi dan air bersih).
- Perlu dibangun sistem peringatan dini dan tempat evakuasi bilamana terjadi kenaikan air laut dan gelombang pasang yang tinggi.
c. Pangan dan Pertanian
- Menentukan awal musim tanam setelah menyesuaikan dengan perubahan siklus alam
- Adanya kebijakan keragaman pangan (diversifikasi) dan intensifikasi pangan yang disesuaikan dengan kondisi sumber daya alam lokalnya
- Perlu adanya perencanaan penyediaan air untuk kegiatan pertanian untuk mengantisipasi kekeringan di musim kemarau
- Perencanaan yang mendetail tentang kebijakan pengembangan pertanian, dengan memperhatikan kelestarian ekosistem agar dapat dilaksanakan sistem pertanian terpadu dan berkelanjutan
- Mengembangkan teknologi hemat air dengan mengintensifkan lahan basah maupun lahan kering yang disesuaikan dengan iklim
- Perlu dilakukan pembahasan tentang peningkatan pendapatan petani dan upaya pemasaran produk pertanian.
- Sosialisasi penelitian mengenai varietas-varietas tanaman yang tahan terhadap banjir, kekeringan, dan salinitas
d. Kesehatan
- Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat mengenai upaya pencegahan penyakit dan perbaikan sanitasi lingkungan.
- Melakukan penelitian untuk mengidentifikasi jenis-jenis penyakit yang bisa ditimbulkan sebagai dampak perubahan iklim serta mengembangkan alternatif upaya pencegahan.
- Pengembangan obat-obatan menggunakan bahan baku yang memanfaatkan keanekaragaman hayati lokal untuk pengobatan penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh perubahan iklim
e. Pendidikan
- Pengembangan pendidikan berbasis lingkungan hidup
- Pengembangan isu perubahan iklim dalam kurikulum sekolah menengah dan perguruan tinggi.
Langkah Mitigasi yang harus dilakukan pemerintah, yakni:
a. Energi
Pemerintah harus mengeluarkan Kebijakan-kebijakan untuk mendukung sektor energi yang berkelanjutan, antara lain:
- Penyediaan akses energi bagi semua orang.
Saat ini baru 58% rumah tangga di Indonesia yang telah dialiri listrik, terdiri dari 59% untuk Pulau Jawa dan 36% untuk luar Jawa. Sementara jumlah desa yang telah teraliri listrik baru sekitar 67% dari total desa di Indonesia. Oleh karena itu peningkatan jangkauan pelayanan yang berbasiskan swadaya masyarakat melalui program listrik mandiri atau pembangkit skala kecil harus digalakkan oleh pemerintah.
- Pelaksanaan efesiensi energi
Pembangkit listrik di Indonesia saat ini lebih banyak menggunakan bahan bakar dari energi fosil (batubara, minyak bumi, gas alam) yang dapat melepaskan karbon. Sehingga dengan mengefisiensikan energi berarti mengurangi pelepasan karbon ke permukaan udara.
- Penyebarluasan penggunaan energi bersih dan terbarukan
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya energi terbarukan. Namun pemerintahnya sendiri belum memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan teknologi pembangkit listrik bersih dan terbarukan yang dapat dikembangkan pada skala-skala kecil.
- Penggunaan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
Terbatasnya persediaan energi fosil (minyak, gas, dan batubara) harusnya dapat memicu Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati dan tanahnya yang subur untuk mengembangkan penyediaan energi berbahan bakar hayati. Selain akan mengurangi dampak lingkungan secara signifikan, penggunaan bahan bakar hayati juga akan membantu pengembangan sektor pertanian di Indonesia.
- Mengembangkan sarana angkutan umum yang ramah lingkungan di perkotaan
Angkutan umum yang ramah lingkungan, seperti kereta listrik ataupun bus ber-bahan bakar gas, mendesak untuk dikembangkan di perkotaan guna mengurangi emisi gas rumah kaca (baik yang ditimbulkan oleh kendaraan pribadi ataupun peningkatan emisi akibat kemacetan lalu lintas karena kepadatan kendaraan pribadi dan umum). Selain itu, perlu dibangun fasilitas jalur bagi pengendara sepeda.
b. Kehutanan
- Penanggulangan penebangan yang merusak, yang akan berkontribusi dalam pengurangan emisi;
- Rehabilitasi maupun konservasi hutan dan lahan oleh masyarakat sehingga meningkatkan kapasitas penyerapan karbon
- Pengakuan terhadap hak masyarakat adat dalam pengelolaan hutan dan sumberdaya alamnya;
- Melakukan jeda tebang (moratorium logging) untuk melakukan penataan ulang sektor kehutanan
c. Sumber Daya Air
- Pelaksanaan pembangunan infrastruktur air, jalan dan jembatan, permukiman serta prasarana dan sarana umum dan milik perorangan harus berdasarkan kajian/studi AMDAL yang komprehensif mencakup aspek teknis, ekonomi, sosial dan ekologis. Selain itu kriteria pengeluaran ijin kegiatan harus memasukkan analisa pelepasan gas rumah kaca (GRK) akibat pelaksanaan kegiatan.
- Kegiatan pemulihan kuantitas dan kualitas aliran sungai pada DAS-DAS (Daerah Aliran Sungai) kritis melalui penghijauan dan pengelolaan kualitas air secara konsisten
- Inventarisasi daerah irigasi dan tempat pengambilan air baku untuk air minum (intake) yang akan terkena dampak kenaikan muka air laut dan mencarikan upaya penanganannya
- Pengelolaan dampak kenaikan muka air laut dan pengelolaan abrasi pantai yang terpadu;
- Pengelolaan daerah rawa dan lahan gambut yang ramah lingkungan (menekan emisi Gas Rumah Kaca);
- Pengkajian ulang “design criteria” perencanaan semua bangunan air dan drainase.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat internasional?
Masyarakat internasional, terutama negara maju, harus mempengaruhi pemerintah mereka agar menjalan kebijakan dalam negeri untuk menurunkan emisi dan kebijakan luar negeri yang mendorong keadilan iklim.
Apa itu Keadilan Iklim?
Keadilan iklim adalah prinsip-prinsip yang memasukkan hak asasi manusia dan keadilan lingkungan dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
- hak setiap orang untuk bebas dari dampak perubahan iklim dan kerusakan ekologis;
- hak masyarakat adat, perempuan, dan pemuda yang setara dalam mengeluarkan pendapat dan akses terhadap teknologi bersih dan energi terbarukan yang dapat dikelola secara lokal;
- negara maju telah mengeksploitasi sumber daya alam di negera berkembang dan mencemari permukaan udara sehingga mengakibatkan negara berkembang mengalami kerusakan lingkungan. Selain itu negara berkembang menjadi korban akibat dampak perubahan iklim karena tidak mempunyai sumber daya (finansial dan teknologi) yang cukup untuk menyesuaikan diri. Oleh karena itu, negara maju bertanggung jawab membayar akibat yang telah ditimbulkannya dengan cara memberikan kompensasi dan pemulihan kepada negara berkembang;
- menuntut negara maju untuk menurunkan emisi mereka dan mendorong keharusan untuk mengurangi kegiatan yang dapat mengeluarkan gas rumah kaca;
- Mengakui hak masyarakat adat untuk memilih pola kehidupan dan mempertahankan budayanya; hak mereka atas penguasaan lahan, termasuk permukaan, kawasan dan sumber daya alam; dan hak atas perlindungan dari setiap tindakan yang dapat merusak kawasan, budaya serta pola hidup mereka;
- melawan campur tangan perusahaan multinasional untuk mempengaruhi pengambilan kebijakan nasional dan internasional yang berakibat pada pola produksi, pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak berkelanjutan;
- Memasukkan masalah iklim, energi, sosial, lingkungan, pengalaman hidup dan penghormatan pada keragaman budaya ke dalam sistem pendidikan;
- Hak untuk mendapatkan udara bersih, sumber daya alam, iklim yang stabil dan planet yang sehat untuk ditempati, untuk generasi sekarang dan generasi mendatang
Apa yang Bisa Dilakukan Untuk Mewujudkan Keadilan Iklim?
Untuk mewujudkan keadilan iklim adalah merupakan tanggung jawab negara dan komunitas internasional (pemerintah). Namun, masyarakat juga perlu mengetahui hak-hak nya sehingga dapat menyuarakan dan menuntut haknya tersebut kepada pemerintah untuk dibicarakan di pertemuan internasional mengenai perubahan iklim yang diselenggarakan di Nusa Dua – Bali, Desember 2007.
Catatan :
Sumber:
- www.wwf.or.id/index.php?fuseaction=press.detail&language=i&id=PRS1178125126
- http://www.pelangi.or.id/press.php?persid=30
- http://www.walhi.or.id/kampanye/energi/iklim/
http://larassejati.multiply.com/journal/item/383/Mitigasi_dan_Adaptasi_dalam_Perubahan_Iklim_Global
- Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RAN MAP) Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
- Bali Principles of Climate Justice
- Friends of the Earth International Position for COP/MOP in Bali
- “How to save the Climate” Greenpeace
Lembar Informasi No. 3 ditulis oleh Hira Jhamtani, Kadek Lisa dan Agung Wardana, dan di layout oleh Atiek, diterbitkan Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim, didukung Third World Network.
Bali Kolaborasi Climate Change merupakan forum yang terdiri dari organisasi non-pemerintah dan eksponen masyarakat sipil yang berjuang untuk mengkampanyekan nilai-nilai Nyepi sebagai salah satu solusi yang adil dan murah untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Forum ini pertama kali dibentuk oleh empat organisasi non pemerintah, yakni: Yayasan WISNU, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali dan Bali Organic Association (BOA).
Posted by WALHI BALI at 8:22 PM 0 comments